Real Bawean Trip Experience – Day 2

baca kisah sebelumnya : http://fifinmaidarina.com/real-bawean-trip-experience-part-1/

Gili – Noko

Ransel besar yang kami bawa, sudah lengkap berisi peralatan kemping dan alat snorkeling, siap untuk berlanjut menikmati alam Bawean dan sekitarnya. Bergerak menyusuri sisi timur Bawean, menuju ke dermaga, karena hari kedua ini, kami berencana berlayar ke Gili dan Noko. Tidak sampai 30 menit, kami sampai di Gili, pulau kecil di sebelah selatan Bawean dan kami bersiap untuk main basah-basahan dengan snorkeling. Jika tidak membawa peralatan snorkeling, bisa sewa di warga sekitar pelabuhan, meski tidak terpampang tulisan counter penyewaan alat, namun beberapa dari mereka sudah menyediakan untuk tamu pendatang.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Karang Pasong. Dari atas kapal saja, sudah terlihat deretan terumbu karamg yang masih cantik warna-warni dengan ikan kecil-kecil bermain dengan lincahnya. Di sisi terluar terdapat dinding menjorok ke bawah, yang memungkinkan untuk aktivitas diving. Mungkin rombongan kami berikutnya yang akan mencicipi diving di sini nantinya.

Semakin pagi semakin nyaman, karena lautnya sangat tenang. Mulai siang, sedikit berombak, tapi masih aman untuk aktivitas snorkeling. Namun sungguh, tak terbantahkan, di sini masih sangat bening alami, dengan visbility yang sangat clear. Sehingga dengan dibaginya pengalaman ini dan nantinya semakin banyak pengunjung yang datang, berharap bahwa pengguna fin / kaki katak adalah yang sudah benar-benar bisa snorkeling sehingga tidak menabrak dan merusak karang-karang. Karena selain potas, aktivitas snorkeling dan diving yang tidak bijaksana, bisa membuat karang itu juga rusak. Padahal perlu waktu yang cukup lama untuk bsia memulihkannya kembali.

Cukup lama kami main di sana, karena saking indahnya, sehingga tak bosan memandang. Lanjut lagi, kami mampir ke pulau Noko, dengan pasir putih panjang. Pasirnya sungguh halus. Kami mampir untuk sekedar foto-foto dan membuka bekal makan siang kami.

Penjaga pantai pun mendatangi kami dan berbincang-bincang tentang upaya konservasi di lingkuang Bawean dan sekitarnya. Rupanya masih saja terdengar adanya nelayan liar yang merampok isi laut ini denagn cara yang tidak benar, yaitu potas. Meski POLAIR telah ada, namun sepertinya penjagaan masih perlu diperketat. Karena, sistem potas membuat ikan yang tidak diburu pun ikut mati, terumbu karang pun rusak. Jika tidak ada terumbu karang, ikan pun sepi, mata rantai terputus, dan kedepannya nelayanpun akan kesulitan untuk mendapatkan ikan. Maka sebaiknya memancinglah dan mencari makan dengan cara yang sehat. Sisakanlah alam ini untuk anak cucu kita. Saat ini mungkin alamnya masih kaya, namun jika tidak dijaga bersama, akan cepat habis juga.

Lanjut lagi, kami mampir ke satu spot snorkeling lagi di sekitaran dermaga Gili. Masih sama, terumbunya masih bagus, meskipun sebarannya tidak seluas di Karang Pasong. Akibat tantangan seorang teman, akhirnya saya berenang menyeberang di lautan untuk kembali ke dermaga, tidak naik kapal. Namun itu sepertinya berkah tersendiri, karena kami bertemu sepasang napoleon sedang berenang tidak jauh di bawah kami. Padahal makhluk ini cukup langka jika dicari. 250 meter perjalanan berenang jadi tidak terasa sejak mata terpuaskan bertemu dengan sahabat kecil si napoleon.

Selesai berenang, kami mampir ke rumah mas Arman, si guide dan nahkoda kapal kami, untuk sekedar numpang mandi dan packing persiapan menuju ke puncak bukit Tunggul Angin. Malam ini, kami berencana kemping di sana.

Setelah semuanya siap, tiba-tiba istri mas Arman muncul dengan membawa bakso ikan. Wah rejeki segar ini. Meski perut serasa belum luruh usai makan siang tadi, harus disambung makanan lagi. Tapi…kapan lagi ya…

Bukit Tunggul Angin

Dari bawah, kami hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di puncaknya. Namun jalanan setapak tidaklah tampak jelas, karena ditumbuhi ilalang yang sangat tinggi, kemudian disambung dengan tanjakan curam melewati jalanan berbatu besar. Peluh dan keringat langsung membanjiri wajah dan badan kami, meskipun baru saja usai mandi.

Puncaknya berupa daratan, yang masih ditumbuhi ilalang tinggi, dengan pohon jati di sekelilingnya. Bukit ini memang sungguh masih segar, jauh dari kesan gundul, namun efeknya, mata tidak bebas memandang lautan ke bawah karena terhalang pohon – pohon besar, Ketika musim kemarau, saat daun jati mulai meranggas, sebenarnya merupakan saat yang tepat mengunjungi bukit ini, sehingga bisa menikmati terbit dan tenggelamnya matahari di balik lautan dengan leluasa.

Buat penduduk Gili, mungkin ini pertama kalinya pendatang yang mau kemping di puncak bukit. Kalaupun ada warga yang naik, paling cuma sekedar melihat ke atas, kemudian turun lagi. Kami benar-benar ingin menyatu dengan alam, sehingga memilih tidur di puncak bukit dengan bermandikan cahaya bintang dan bulan yang sedang menjelang purnama, sehingga tampak hampir bulat penuh, menerangi tempat kemping kami.

Kalaupun belum bisa berbuat banyak untuk alam ini, setidaknya bawalah turun kembali sampah hasil konsumsi pribadi, dan kalaupun melihat bekas sampah, jangan menjadi contoh untuk ditambahi, tapi bawalah sekalian turun untuk dibuang di penampungan sampah warga. Jadilah turis lokal yang bijaksana… Happy traveling…

based on our journey on 15 – 18 April 2016

has published :

    1. Tribunnews Online http://www.tribunnews.com/travel/2016/04/26/jelajah-pesona-bawean-dari-surabaya-lebih-asyik-dan-flesikbel-dengan-kapal-ferry
    2. Harian Surya, 23 Apr 2016 & 30 Apr 2016
    3. Tribun Jateng, 12 May 2016 & 19 May 2016

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *