Gunung Kinabalu – 4.095 mdpl

Impian bersambut

Foto-foto guratan indah di area punggungan serta puncak Kinabalu yang meruncing masih terbayang. Bermimpi suatu hari bisa kesampaian untuk menginjakkan kaki dan melihat langsung ke sana. Dan akhirnya mimpi tersebut bersambut di tahun 2017. Seorang teman mengajak gabung trip dengan beberapa teman lainnya. Agak dadakan. Tapi tanpa pikir panjang, langsung saya iyakan. Mumpung fisik masih cukup kuat. Saatnya naik level, ke pendakian gunung di ketinggian lebih dari 4.000 mdpl. Toh masih dekat dengan Indonesia, mudah terjangkau dan tidak butuh penyesuaian terlalu lama masalah perbedaan suhu dan tekanan oksigen.

Paket yang ditawarkan seharga MYR 1.500 per orang untuk pendakian dan akomodasinya. Kalau dikurskan sekitar Rp. 4.5 juta waktu itu. Cukup mahal sich untuk ukuran trip pendakian gunung. Namun karena sistem di sana sudah dikelola dengan baik, jadi wajarlah mereka mematok harga untuk sebuah jasa. Kalau dibandingkan dengan operator lain, harganya juga tidak jauh berbeda. Mengucurlah DP sebagai tanda jadi.

Tentang Puncak St. John

Gunung Kinabalu, 4,095 mdpl, terletak di Sabah, bagian dari negara Malaysia yang nempel dengan pulau Kalimantan. Merupakan gunung tertinggi di Pulau Kalimantan dan tertinggi kelima di Asia Tenggara.

Biasanya setiap gunung menyimpan cerita dan misterinya sendiri. Menurut kepercayaan masyarakat Kadazan Sabah, nama “Kinabalu” berasal dari kata “Cina Balu” (balu = janda) yang artinya jandanya orang Cina. Karena pengaruh bahasa setempat, pengucapan kata “cina” (chee-na) berubah menjadi “Kina” (kee-na).

Konon ada seorang pangeran dari Cina yang kapalnya tenggelam dan terdampar di pulau Kalimantan. Dia diselamatkan oleh penduduk asli di desa terdekat dan diterima baik oleh warga. Sampai akhirnya mulai jatuh cinta dengan wanita lokal dan menikahinya.

Sampai tahun-tahun berlalu, pangeran tersebut rindu dengan keluarganya dan minta ijin untuk pulang ke Cina menemui kedua orang tuanya dan berjanji untuk kembali menjemput istri dan anaknya di desa untuk dibawa ke Cina.

Sesampainya di Cina, kedua orang tua pangeran tidak setuju jika sang pangeran mengambil istri seorang Borneo dan malah berencana untuk menikahkan dengan putri kerajaan tetangga. Dengan berat hati, sang pangeran menuruti perintah kedua orang tuanya.

Sementara itu, di Kalimantan, istrinya menanti dengan cemas. Setiap hari memandang ke lautan, menunggu kapal suaminya. Namun, karena desa itu terletak jauh dari pantai, dia memutuskan untuk mendaki ke puncak gunung tertinggi di dekat desanya, sehingga ia bisa lebih leluasa memandang kapal-kapal yang berlayar di Laut Cina Selatan. Dia memanjat gunung di setiap matahari terbit, kembali hanya pada malam hari untuk merawat dan menjaga anak-anaknya. Sampai suatu saat dia sakit dan meninggal di puncak gunung dingin sambil menunggu suaminya. Sang alam sangat kagum dengan semangat dan kesetiaannya. Dan menjadikan wanita ini bagian dari gunung tersebut, dengan mengubahnya menjadi batu yang wajahnya menghadap ke Laut Cina Selatan. Saat ini, ketika memandang puncak St. John dengan guratan seperti wajah, ya itulah wajah wanita yang menanti suaminya dengan setia.

Here we go

Pada awal tahun 2017 ini, belum ada direct flight dari Surabaya ke Kota Kinabalu. Jadi rutenya Surabaya – Jakarta – Kuala Lumpur – Kota Kinabalu. Dengan rute panjang seperti ini, biasanya saya menyisihkan dua hari untuk keberangkatan dan kepulangan.

Sampai di Bandara Kota Kinabalu, sudah dijemput oleh seorang teman, untuk langsung menuju apartmen di tengah kota. Meletakkan barang sambil menunggu rombongan lainnya.

Malam hari setelah semua rombongan tiba, kami diajak makan ke pasar malam Sinsuran. Tak jauh dari apartmen kami, sehingga cukup dengan jalan kaki. Banyak menu seafood dan Indonesian food, seperti nasi goreng, mie goreng dan bakso. Tapi paling menarik sebenarnya penampakan ikan segarnya, yang siap dipilih dan diolah. Sayangnya karena perut sudah lapar, jadilah pesan menu yang bisa tersaji cepat. Seafoodnya disimpan untuk kuliner berikutnya saja. Tidak pulang terlalu larut, karena besok pagi sekali, kami harus bersiap menuju desa terakhir sebelum pendakian ke Gunung Kinabalu.

Petualangan Dimulai

Lebih kurang 2 jam perjalanan menuju ke Kinabalu Park. Beberapa km sebelum tiba, kami berhenti sejenak. Mampir ke Nabalu, semacam rest area dengan beberapa toko souvenir dan depot-depot serta area terbuka dengan pemandangan deretan punggungan gunung Kinabalu yang elok nian. Menghirup udara segar dan foto-foto cantik, sambil menunggu siang, karena kami baru bisa check in pukul dua waktu setempat. Udara di sini mulai terasa dingin. Apalagi saat keberangkatan saya masih kurang enak badan, jadi angin dinginnya lebih menusuk. Berharap sudah pulih dan kuat saat pendakian nantinya.

Kinabalu Park Headquarters merupakan area penginapan dan restoran, sebagai tempat istirahat sebelum pendakian.

Setelah melapor ke pintu kedatangan, kami diantar ke Rajah Lodge, tempat penginapan yang telah dipesan untuk grup kami. Berupa bungalow yang cantik banget, model rumah kayu. Masuk ke dalamnya, akan terlihat dua pintu kamar dan tangga turun. Sementara lantai bawahnya berupa ruang keluarga dengan sofa hangat dan karpet bulu lengkap dengan televisi dan perapian di sebelahnya. Dilengkapi juga dengan ruang makan dan dapur beserta perkakas yang bisa digunakan. Pintu utama di lantai bawah berupa balkon yang langsung menghadap ke rapatnya pohon di depan mata. Kalaupun ingin berlibur tanpa melakukan pendakian, bersantai saja di sini, juga merupakan pilihan yang menarik. Udaranya sejuk, karena sudah berada di ketinggian 1.562 mdpl.

Sebelum gelap, kami jalan-jalan sore di sekitaran penginapan. Menyesuaikan tubuh dengan suasana sekitar, sekaligus pemanasan tipis-tipis, melemaskan kaki. Jalan raya menanjak, berliku halus. Di tepian jalan, disediakan jalur khusus untuk para pejalan kaki. Bahkan ada peta rute-rute tracking dengan jalur pendek, di sekitaran sana.

Makan malam hari ini sudah termasuk dalam paket trip. Terdapat sebuah resto di dekat pintu masuk Kinabalu Park, Balsam Buffet Restaurant yang menyediakan paket buffet untuk makan malam kami, termasuk untuk sarapan besok. Menu lokal sampai ala bule, tersedia di sini. Kita bisa bebas makan sampai kenyang.

Esok paginya, usai sarapan, kami menunggu guide yang akan mendampingi kami dan mendaftarkan group kami ke pos pelaporan. Masing-masing dari kami akan mendapat keplek bertuliskan grup, nama dan nomer peserta. Keplek ini harus dibawa kemanapun. Ada beberapa titik saat pendakian, dimana kita harus menunjukkan keplek ini untuk dicatat, sehingga merekapun bisa memantau dengan lebih baik, siapa saja yang sudah naik dan turun dengan selamat.

Akhirnya tibalah saat memulai pendakian Gunung Kinabalu, Tidak diperlukan briefing panjang. Hanya diberikan gambaran sekilas rute pendakian dan berpesan agar kami semua tetap berada dalam kelompok, tidak berjauhan.

Pk. 8.30 waktu setempat, kami mulai dibawa jalan mulai dari 0 km di Pos Timpohon Gate di ketinggian 1.866 mdpl. Berencana untuk berhenti makan siang di pos Layang-Layang, di titik 4km. Bekal makan telah disiapkan, berupa nasi kotak yang dibawa oleh masing-masing peserta. Untuk pendampingan, disarankan jumlah peserta : guide adalah 4 : 1. Namun mereka hanya bertugas mengantarkan dan menjaga para tamu. Sementara jika membutuhkan jasa porter, harus menyewa secara terpisah. Lebih kurang harganya MYR 10 per kg.

Pendakian dimulai. Tak jauh dari gerbang masuk, pengunjung akan disambut dengan air terjun kecil, Carson Fall. Suaranya mengantar langkah kami menikmati alam Kinabalu.

Jarak pos satu dengan pos lainnya sangat dekat, antara 500 m sampai 1 km, dan setiap pos dilengkapi dengan toilet yang layak pakai, tempat sampah dan sumber air bersih. Bentuk pos juga masih tertata rapi dengan atap yang lengkap, sehingga benar-benar bisa dipakai sebagai tempat istirahat dan berteduh.

Medan didominasi dengan tanah dan bebatuan. Sesekali akar pohon menjalar hingga ke tengah jalan. Jalur pendakian terus menanjak, meskipun bukan yang ekstrim. Jarang ada bonus jalan datar. Namun semua jalurnya sudah dibuatkan semacam undag-undagan, sehingga tinggal menapaki semacam tangga alami. Adapun jalur yang sedikit rusak, akan dibantu diberikan tangga dari kayu. Jika ada bagian yang longsor di salah satu sisi, maka akan ditambahkan pegangan tangan berupa kayu atau tali, sebagai pengaman.

Gunung Kinabalu tidak aktif dengan luapan lahar seperti gunung berapi di Indonesia. Hanya di sini sering terjadi gempa. Dan yang lumayan dahsyat, sempat terjadi pada Juni 2015. Wilayah sekitar gunung rusak dan beberapa orang tewas akibat gempa dan longsor besar. Namun, pihak pengelola gunung Kinabalu cukup tanggap merespon adanya bencana. Saat ini sudah dibentuk team SAR, yang berjaga aktif di beberapa titik. Koordinasi antara guide dan tim SAR juga sangat baik, sehingga jika ada kejadian ataupun kecelakaan sekecil apapun bisa tertangani dengan segera.

Sesuai rencana awal, kami tiba sekitar tengah hari di pos Layang-Layang untuk istirahat makan. Ketinggian sudah mencapai 2.702 mdpl. Lebih kurang 3,5 jam perjalanan dari gerbang awal. Dua kilometer lagi akan tiba di Laban Rata Restarea, namun medan akan lebih curam, sehingga saatnya mengisi energi dulu di KM 4 ini. 

Ini adalah gambar penampakan porter ala Kinabalu, yang sempat saya jepret pas perjalanan. Punggungnya diberi papan penyangga untuk membawa barang. 

Setelah istirahat lebih kurang sejam untuk makan dan menarik nafas, saatnya melanjutkan perjalanan. Bagaikan mesin, yang terlanjur sudah dingin, jadinya serasa berat sekali untuk memulai langkah. Padahal medan yang menanti berikutnya lebih menanjak.

Meski dengan sisa tenaga, kaki dicoba untuk terus melangkah. Dan harapan mulai tampak. Tanaman sudah tidak tinggi. Itulah penanda, kami akan segera tiba ke area basecamp.

Dan akhirnya… setelah 2,5 jam perjalanan dari Pos Layang-Layang, tiba juga di Laban Rata, 3.272 mdpl.

Laban Rata Restarea merupakan penginapan dan restauran yang menampung puluhan orang. Dikelola oleh Sutera Sanctuary Lodges, sama dengan Balsam Café yang di bawah tadi. Kuota pendaki disesuaikan dengan kapasitas jumlah kamar. Di sekitarannya, juga terdapat beberapa penginapan sejenis, yang siap memanjakan para pendaki.

Yup, pendaki di sini benar-benar dimanjakan. Tidak perlu sibuk memasak dan mendirikan tenda, semuanya sudah tersedia. Kamar mandi dengan air hangat serta kasur empuk lengkap dengan selimut tebalnya.

Menu buffet mulai dari sore sampai malam tersedia lengkap, plus minuman hangatnya. Dini hari, mulai jam 2 pagi, resto akan dibuka lagi, untuk mengisi perut para tamu sebelum pendakian ke puncak.

Saatnya menikmati suasana mewah. Mandi, berganti baju hangat. Kemudian meneguk kopi di antara lautan awan Laban Rata.

Menyentuh 4.000 mdpl

Waktu normal yang dibutuhkan untuk tiba di puncak lebih kurang 3 jam, sehingga biasanya pk. 02.30 waktu setempat, para pendaki sudah mulai bergerak. Jalur nikmat yang masih sama, tanjakan curam, tapi terbantu oleh adanya tangga kayu dengan pegangan tangan di sisi kiri atau kanan. Sedikit antri pada deretan tangga-tangga yang mengawali jalur summit ini. Karena semua pendaki berangkat di jam yang hampir bersamaan.

Sampai akhirnya di pos “Sayat-Sayat check point”, kita harus absen menunjukkan tanda pengenal, sehingga tercatat rapi, siapa saja yang summit attack pada hari tersebut. Selepas pos tersebut, sudah tidak ada tanjakan rapi lagi, melainkan lahan terbuka dengan medan bebatuan besar. Sepanjang jalur terdapat tali yang dipasang, karena khawatir licin ataupun geser saat gempa ringan.

Kalau di Indonesia, tali-tali seperti ini hanya ada, ketika medannya terhitung sangat-sangat curam atau rusak. Kalau di sini, tingkat keamanan memang yang utama, sehingga tali ini dipasang sebagai penanda jalur sekaligus pengaman.

Sedikit memaksa badan yang belum 100% pulih benar ini. Butuh mengolah nafas, karena memang jalanan terus menanjak tanpa ampun. Dan kalaupun berhenti sejenak, angin berhembus begitu dingin, sehingga tidak betah diam berlama-lama.

Sampai akhirnya tepat pk. 6.30 kami tiba di puncak Low’s Peak, puncak tertinggi Gunung Kinabalu, dengan ketinggian. 4.095,2 mdpl. Perlu toleransi tinggi untuk bergantian foto di tugu puncak tersebut, karena tempat pijakan dekat papan namanya sangat sempit. Saatnya mengibarkan bendera merah putih di bawah langit Gunung Kinabalu. Dingin yang menusuk membuat muka jadi tembem alias mekar semua sebagai efek reaksi tubuh menahan dingin.

Setelah puas foto di puncak, jalanan turun menjadi spot foto yang sangat istimewa. Gunung Kinabalu ini sebenarnya memiliki banyak puncak, salah satunya St. John, sesuai legenda di atas dan South Peak atau dikenal dengan Puncak Seringgit (1 MYR) yang sering muncul di foto icon Gunung Kinabalu dan masih banyak lagi puncak-puncak kecil lainnya. Semuanya menjadi sudut yang menarik untuk di foto.

Matahari semakin tinggi dan jalanan mulai panas. Jaket-jaket mulai dilepaskan dan menuruni jalur dengan sedikit terburu, karena lapar dan mengejar jam operasional restoran. Mereka hanya membuka jam makan sarapan sampai pk. 10 pagi saja. Pendaki yang turun melewati batas tersebut, tentu tidak kebagian sarapan.

Setelah sarapan dan berbagi cerita, akhirnya bersiap untuk turun. Diperkirakan separuh waktu yang diperlukan untuk turun. Mulai pos 2 sampai ke bawah, saat sudah tengah hari, perut saya mulai nagih lagi, minta diisi. Ingin sekali segera tiba di bawah, tapi kaki sudah lemas rasanya dibuat berlari. Akhirnya kami semua tiba pk.14.30 di Balsam Buffet Restaurant untuk makan siang dan berbagi cerita.

Bagian teristimewa menurut saya adalah rute dari Laban Rata menuju puncak, karena pemandangannya lain daripada yang lain. Deretan dan guratan puncak-puncak kecil yang menghiasi, tampak begitu unik dan gagah mempesona. Namun kalau karakteristik hutan di lerengnya, lebih variatif di Indonesia, yang mana kadang masih bisa ketemu hutan hujan tropis, berganti savana, kadang berganti dengan cekungan air, pohon yang melintang, sungai dan sebagainya.

Kalau soal pelayanan, mereka jagonya. Salah seorang teman, sempat terkilir kakinya saat perjalanan turun. Dalam hitungan menit, tim SAR sudah langsung datang dan memberikan pertolongan. Mengolesi minyak dan membalut kakinya. Salut banget dengan kerja mereka.

Pendakian Gunung Kinabalu ini cukup membutuhkan fisik, karena semuanya sudah tersedia dengan baik. Sementara gunung-gunung di Indonesia memerlukan mental yang lebih, karena jalur yang terkadang masih susah dan menantang. Belum lagi, kalau harus mendirikan tenda di saat hujan badai, memasak di antara dingin dan kantuk, dan masih banyak lagi hal-hal tak terduga lainnya, seperti terkilir tadi misalnya.

Semuanya akan membuat kita kaya akan pengalaman. Belajarlah dari alam dan alam akan tetap menjagamu.

based on our journey on 12-17 Feb 2017

Has published :

  1. Harian Surya, 20 Mei 2017
  2. Tribun Jateng, 13 April 2017

Spread the love

6 thoughts on “Gunung Kinabalu – 4.095 mdpl”

      1. siap mba ak tunggu kelanjutan ceritanya..,,harus seru yaa hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *