Gunung Welirang via Jalur Sumber Brantas

Saat SMA, gunung Welirang sudah seperti tempat langganan teman-teman geng pecinta alam di sekolahku untuk mendaki. Era tahun 1998, jalur yang sering digunakan adalah jalur via Tretes. Gerbang pendakiannya di sekitaran area air terjun Kakek Bodo. Jalur ini merupakan jalur yang sama jika melakukan pendakian menuju puncak Arjuno.

jalur pendakian via Tretes

Karena saking seringnya saat itu, menuju puncak bukanlah tujuan utama. Asal ngumpul dengan teman dan nongkrong di alam, aku sudah bahagia. Setiap ke Welirang, minimal tiga hari. Bukan jarak tempuhnya yang jauh, tapi zaman sekolah waktu itu benar-benar menikmati pendakian sebagai liburan di alam. Jalan santai, setiap ada tempat bagus gelar tenda, memasak, bercerita. Foto pun seperlunya, karena masih menggunakan kamera analog, menghemat roll film yang dibawa, sehingga lebih banyak menikmati alam. Dan memang, masa itu serasa tidak pernah dikejar waktu, karena waktu libur yang cukup panjang.

Secara administratif, sebenarnya lokasi gunung Welirang masuk dalam area Kota Batu, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto. Saking luasnya areanya, maka era kini, sudah banyak berkembang jalur-jalur lain yang bisa digunakan. Setelah 25 tahun, akhirnya ingin kembali menyapa puncak Welirang lewat jalur lain. Macam reuni perak, ya, hehehe…

Untuk pendakian Arjuno-Welirang, ada empat pos pendaftaran yang telah resmi dimasukkan dalam situs Tahura Raden Soerjo. Pos Sumber Brantas, Pos Tretes, Pos Tambaksari dan Pos Lawang. Saat ini, pendaftaran online juga sudah wajib dilakukan melalui laman https://tahurarsoerjo.dishut.jatimprov.go.id/sipenerang/

Tiket masuk pendakian sebesar Rp.10.000,- per orang untuk hari biasa dan Rp.15.000,- untuk pendakian di hari Sabtu dan Minggu. Minimal peserta terdaftar adalah tiga orang. Hal ini sebagai upaya agar para pendaki tidak nekad muncak sendirian.

Mencoba Tektok

Tektok adalah istilah pendakian gunung tanpa menginap. Berangkat kemudian langsung pulang. Sebelum kebakaran area Arjuno-Welirang tahun ini, sempat mencoba tektok ke puncak Welirang. Icip jalur via Sumber Brantas, atau yang biasa disebut juga dengan jalur via Batu. Lokasi pos perijinan berada di area wisata Sumber Air Panas Cangar.

Karena berencana tektok, aku berusaha tiba di pos sepagi mungkin. Ternyata, pos benar-benar baru dibuka mulai pukul 08.00 WIB untuk melakukan perijinan. Meskipun rumah di samping yang digunakan sebagai basecamp dan menginap sudah riuh dengan aktivitas. Jadi masih sempat sarapan di warung seberang sambil menyesuaikan suhu tubuh dengan udara luar yang cukup dingin pagi itu.

Di pos perijinan, memang tidak pakai acara timbang badan dan ukur tekanan darah, tapi pendaki sudah wajib membawa surat keterangan sehat dari dokter. Dan juga menunjukkan bukti pendaftaran online. Setelahnya akan dicek kelengkapan peralatan yang dibawa dan dilakukan briefing singkat. Sebagai catatan, pendakian via Sumber Brantas, tidak ada sumber air, sehingga pendaki harus membawa persediaan air yang cukup.

Jarak pos perijinan ke jalur masuk pendakian masih cukup jauh. Disediakan mobil pick up untuk antar jemput pendaki, dengan tarif Rp.25.000,- per orang. Minimal 4 orang, mobil akan melaju. Area parkir kendaraan pun tidak ada di dekat jalur pendakian. Jadi memang amannya, kendaraan dan barang-barang yang tidak diperlukan dititipkan ke basecamp saja.

Perjalanan dengan pick up lebih kurang 15 menit dengan pemandangan hamparan area perkebunan yang cantik banget, memasuki kawasan Wisata Alam Kakilangit. Hitung-hitung hemat tenaga dan waktu, karena kalau jalan kaki bisa makan 2 jam sendiri. Pendaki akan diturunkan di persimpangan area perladangan penduduk. Kalau rencana pulang agak malam, simpan saja nomer pak sopirnya, biar bisa dijemput. Karena trayek mereka biasanya hanya sampai Magrib.

kawasan Wisata Alam Kakilangit

Jalur awal pendakian masih melewati ladang penduduk. Setelah lebih kurang 5 menit berjalan, mulai memasuki hutan dengan pohon tinggi. Jalanan berupa tanah dengan akar pohon yang sesekali melintang. Masih landai tapi jalurnya cukup panjang untuk bisa sampai di Pos 1 – Brakseng. Karena tektok dan tidak membawa beban berat, lebih kurang butuh waktu setengah jam untuk tiba di Pos 1.

Lanjut ke pos berikutnya. Jalanan masih sama, panjang tapi masih bersahabat. Lebih kurang 45 menit untuk tiba di Pos 2 – Watu Gede. Pos ini ditandai dengan batu besar di sebelah kanan jalur pendakian. Ada area tanah lapang, cukup untuk menampung 4 tenda.

Pos 2 – Watu Gede

Menuju Pos 3, mulai pemanasan neh. Medannya mulai ada tanjakan. Kiri kanan dipagari dengan semak-semak pendek, bukan pohon tinggi lagi, sehingga sengatan matahari mulai terasa. Untuk jalannya sudah tidak sejauh jarak antar pos sebelumnya. Namun, karena sudah mulai ada tanjakan, butuh waktu lebih kurang 45 menit juga untuk tiba.

Pos 3 – Daplang

Salah satu penanda, di Pos 3 – Daplang, ada sebuah pohon besar tumbang melintang di jalan. Di pos ini, dulunya merupakan titik percabangan. Mau langsung ke puncak Welirang atau melewati Lembah Lengkean dan Kembar 1 terlebih dahulu. Berhubung longsor dan jalurnya rusak, maka jalur langsung menuju puncak Welirang telah ditutup. Pendaki tetap harus melewati Lembah Lengkean meski terhitung sedikit memutar untuk menuju puncak Welirang.

Perjalanan berikutnya, aku serasa menikmati suasana yang berbeda. Mulai dari deretan pohon cemara, kemudian bebatuan besar yang siap membuat ngos-ngosan, karena tanjakan mulai terasa. Kemudian berganti dengan deretan cantigi besar dan lebat. Cobalah menikmati perjalanan Pos 3 ke Pos 4 ini. Di antara semua jalur, aku menikmati jalur Pos 3 ke 4 ini paling lama, yaitu 1.5 jam saking banyaknya mengambil foto. Banyak cabang-cabang pohon yang melintang di atas membentuk deretan lorong yang cantik untuk diabadikan. Di jalur ini pula akan ditemui titik uap belerang yang muncul dari tanah. Jalur istimewa.

cabang pohon yang melintang

Jadi sempurna, ketika selepas padang rumput dan menemui Lembah Lengkean. Ah, benar-benar surga. Di satu kiri tampak hamparan gundukan perbukitan dengan rumput kekuningan diselingi pepohonan hijau. Di sisi kanan rapat dengan pepohonan hijau, dengan area dataran yang dipenuhi pohon cantiqi dan tenda warna-warni milik pendaki. Area inilah yang membuat beda dibanding pendakian jalur lainnya.

memasuki Lembah Lengkean

Tempat istirahat yang sangat indah sebelum pendakian ke puncak. Ingin rasanya mencukupkan diri sampai titik ini aja, berleyeh-leyeh saja saking indahnya. Namun, teman-teman masih terus ngompori untuk lanjut ke puncak Kembar 1 dan Welirang.

area Lembah Lengkean

Dari Lembah Lengkean atau Pos 4 ini sebenarnya sudah cukup dekat menuju puncak Kembar I. Terjal yang pasti. Jaket sudah mulai kupakai. Sudah berada di ketinggian dan tidak ada pepohonan besar lagi yang melindungi dari angin dingin. Medan sudah berbatu dan menanjak di antara hamparan rerumputan dan cantigi yang mengapit di sisi kanan kiri.

jalur menuju puncak Gunung Kembar I

Setengah jam akhirnya tiba di puncak Kembar I, dengan pemandangan puncak Kembar II di belakang dan Welirang di depan mata.

puncak Gunung Kembar I

Meskipun seolah di depan mata, untuk menuju ke puncak Welirang, ternyata harus turun dulu dengan medan yang cukup curam. Ah, kebayang, artinya baliknya adalah tanjakan tajam.

turunan tajam menuju puncak Welirang

Setelah melewati turunan, mulai melipir ke bukit sebelah yang berupa punggungan bukit berbatu putih. Di salah satu area terbuka punggungan ini, akan tampak pemandangan hamparan perbukitan serba hijau di seberang.

pemandangan di sekitaran perbukitan putih

Setelahnya akan melewati jalur sempit. Bebatuan berwarna putih mendominasi. Jalur ini merupakan jalur para penambang. Tidak terbayang bagaimana lelahnya para penambang membawa belerang menggunakan gerobonag melalui jalur yang sempit dengan tanjakan dan turunan ini.

papasan dengan penambang belerang

Selepas melipir perbukitan, mulailah tanda-tanda medan menuju puncak. Serba kerikil dan bebatuan sampai di titik puncak Welirang, 3.156 mdpl.

puncak gunung Welirang

Cerukan kawah di bawahnya menimbulkan aroma belerang yang begitu kuat. Butuh satu jam untuk tiba di titik ini dari puncak Kembar I. Sayang, cuaca sore ini mulai mendung, sehingga tidak bisa mengabadikan cerukan indah di bawahnya.

pemandangan kawah Welirang

Namun, perjalanan panjang ini ditutup dengan bahagia berkat pemandangan matahari tenggelam di area puncak Kembar I.

sunset di puncak Gunung Kembar I

Berapa kali pun perjalanan mendaki, ke gunung yang sama sekalipun, akan selalu punya kesan dan cerita yang berbeda, dengan suasana yang berbeda sehingga selalu menjadi cerita baru yang layak untuk dikenang. Mari melangkah dan buat kenangan versimu.

based on my journey on July 2023

 

Has published : Harian Surya, 12 November  2023

Harian Surya, 12 November 2023

 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *