Perpanjangan Waktu di Kota Kinabalu

Setelah dua hari menjelajah Kinabalu di ketinggian gunung, saatnya menembus lautan. Sayang, jika sudah terbang jauh, tidak sekalian lanjut eksplorasi.

baca kisah pendakian Gunung Kinabalu: http://fifinmaidarina.com/gunung-kinabalu-4-095-mdpl/

Kota Kinabalu dikelilingi pantai, sehingga pasti bakal banyak water sport activity yang bisa dicoba. Bertanya pada pihak hotel, paket menyelam dan snorkeling yang direkomendasikan di sekitaran sana. Dalam dunia penyelaman, salah satu aturannya adalah no flight time selama sehari usai menyelam, maka dibuat jadwal menyelam dulu, baru esoknya snorkeling santai.

Bertiga dari rombongan pendaki adalah juga penyelam, sehingga kami bertigalah yang extend untuk mencicipi bawah lautnya sekitaran Kinabalu. Sebelumnya tidak ada rencana untuk menyelam, sehingga tidak ada yang membawa peralatan. Tidak masalah, karena dive operator biasanya menyediakan lengkap. Setelah mencoba peralatan, kami berjalan menuju ke Pelabuhan, yang letaknya tak jauh dari titik kumpul.

 

Time to Dive

Tempat baru, selalu akan menarik untukku. Tidak menaruh ekspektasi apapun. Dan ini pertama kalinya menyelam di luar negeri buatku. Jumlah penyelam ada lima, termasuk kami bertiga. Didampingi oleh satu orang guide. Dua lainnya adalah pasangan turis Cina. Kami akan dibawa ke Pulau Sapi.

Saat naik kapal menuju spot penyelaman, penumpang kapal wajib memakai life jacket. Bisa berenang ataupun tidak, ini menjadi peraturan wajib yang harus ditaati oleh penumpang kapal. Nah, kalau di luar negeri, peralatan menyelam wajib set up sendiri. Menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Beda dengan menyelam di Indonesia, dimana penyelam masih bisa bermanja-manja untuk dibantu setting dan pakai.

Regulator on…. Saatnya masuk.

Dan drama dimulai. Penyelam cewe dari Cina, tampaknya kesulitan untuk masuk. Sementara yang lain sudah kneel down di area berpasir, lebih kurang di kedalaman 8 meter. Si guide berpesan, agar kami tetap menunggu di bawah, sementara dia akan naik, berusaha membantu si cewe tersebut untuk turun. Nah, karena cowonya khawatir, ikutan naik. Kami bertiga terdiam sunyi di bawah. Mencoba melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada pemandangan yang menarik untuk bisa difoto. Mati gaya!

Selang lama, mereka tidak juga muncul, sehingga kami putuskan untuk ikut naik. Tetap melakukan proses safety stop di 5 meter. Masalahnya, dari kami bertiga, tidak ada yang membawa divecomp, sehingga 3 menit kami hitung bersama secara manual. Detik-detik terakhir, hitungan hampir habis, si guide muncul bersama si cowo. Akhirnya kami jalan-jalan bawah air.

Mungkin mood sudah turun, sehingga rasanya tidak ada apapun yang menarik tanganku untuk menjepret di bawah air saat itu. Menyelam pertama berlangsung tidak sampai satu jam. Kami sudah naik.

Sampai di kapal, si guide ngomel kepada kedua pasangan tersebut. Semoga penyelaman kedua lebih smooth. Kapal mulai bergerak, bergeser pada spot berikutnya.

Kami memang tidak mencari spot menyelam terbaik di Malaysia, hanya sekedar sekalian icip saja, mumpung berada di tepian lautan, sekalian basahin insang. Tidak banyak mengambil gambar di bawah laut. Tapi bagaimanapun, boleh donk, tetap bangga hati, bawah laut Indonesia tetap surganya.

underwater photo di Pulau Sapi

Ya sudahlah ya, memupuk pengalaman. Saatnya menikmati makan siang di Pulau Gaya. Merapat ke dermaga. Nongkrong di tepian pantai sambil mengunyah nasi kotak. Di sekitaran pulau Gaya ini, sebenarnya juga mempunyai beberapa spot untuk menyelam. Jaraknya juga sama, lebih kurang 10 menit dari Kinabalu menggunakan speed boat. Yeah… karena memang sebelumnya tidak banyak mencari informasi terlebih dahulu, jadi asal menyelam saja sudah senang, tidak pilih-pilih tempat.

Malamnya, lanjut lagi dengan kuliner di tempat pertama datang tiba di Kinabalu. Kami kembali ke pasar itu lagi. Kali ini punya banyak waktu untuk icip kuliner serba ikan. Salah satu yang menarik mata adalah kerang besar, bahkan lebih besar dari genggaman tangan. Kami tinggal tunjuk kepada penjualnya, dan minta dimasakin dengan bumbu terbaik. Sebagai pendamping, cumi dan lobster ikutan dipesan.

Taraa…. Makan malam sudah siap. Paling atas adalah siput Tarik bumbu red chilli. Kiri bawah adalah cumi goreng tepung, sementara kanannya adalah lobster yang dimasak dengan sedikit kuah kental.

Lidah puas dan perut pun kenyang. Saatnya istirahat. Besok lanjut lagi, dengan pengalaman snorkeling dan hopping island ke pulau Sapi dan pulau Manukan.

 

Snorkeling Day

Kalau kemarin hanya menyelam di sekitaran pulau Sapi saja, hari ini saatnya mendarat ke pulaunya, dan bebas untuk bermain di tepian pantai sambil snorkeling. Demi keamanan, petugasnya berjaga ketat. Saat kami bertiga berenang agak ke tengah, demi mencari ikan-ikan, sudah langsung disemprit dan diteriaki dengan speaker, karena melewati batas aman. Terpaksa berenang kembali. Kami sebenarnya penasaran dan ingin melihat lebih dalam, karena di sekitaran pantai, hanya pasir putih. Tidak banyak ikan dan isian hewan lautnya.

Paket makan siang disediakan prasmanan. Cukup rakus siang ini. Aktivitas bersama air laut, selalu membuat lapar dan kalap.

Waktu habis. Saatnya bergeser ke pulau Manukan. Karena sudah lelah bermain air, jadinya jalan-jalan saja, masuk ke dalam pulau. Ada sebuah area dengan pephonan rindang di sekitarnya, sempat menarik pandangan mata. Ternyata merupakan area makam warga lokal.

Malamnya, lagi-lagi kuliner di pasar. Meskipun aku bukan penggemar ayam, tapi akhirnya tergoda dengan sayap ayam yang dipajang berjajar. Dijual 15 RM 10 buah, kisaran Rp50.000,- (tahun 2017).

Dan, yang tentunya tidak boleh ketinggalan, adalah mencicipi durian lokal punya Sabah.

Sebaik atau seburuk apapun, sebuah perjalanan adalah sebuah kisah, yang akan memperkaya pengalaman kita. Akhirnya adalah tentang bagaimana kita bisa tetap menikmatinya dan melewatinya dengan tertawa.

based on our journey on 12-17 Feb 2017

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *