Naik Kereta

Hari itu, aku usai menyelesaikan pendakian soloku di salah satu gunung di Jawa. Tiba di basecamp saat hari sudah sore, angkutan umum sudah langka di jam itu, sehingga kuputuskan untuk pulang esok harinya saja.

Banyak pendaki baru berdatangan di basecamp, saat itu hari Lebaran kedua. Kemarin sepi. Sepertinya aku satu-satunya yang kemarin naik via jalur tersebur. Jalur lain, entah.

Usai mandi dan beres-beres barang, aku nongkrong di luar basecamp. Mengamati kesibukan para pendaki. Salah seorang pria mendekatiku. Rupanya dia juga datang sendirian, tidak bersama rombongan. Dia bertanya, apakah aku akan naik esok. Kukatakan aku sudah turun.

“Berat tidak?” lanjutnya.

“Enggak. Hmm… Apa sudah sering mendaki?” aku mencoba bertanya, agar bisa memperkirakan dan mencoba membantu mendeskripsikan seberat apa medan yang akan dilalui.

“Aku belum pernah mendaki gunung di Indonesia. Aku lama tinggal di Amerika. Di sana aku sering naik gunung,” dia mulai bercerita.

“Wow!” aku mulai amazing.

“Tapi di sana naik gunungnya pakai kereta, lah ini kan jalan,” dia melanjutkan.

“Kereta? Atau ferrata?” tanyaku, takut salah dengar. (Via ferrata itu teknik memanjat pada tangga besi yang dipasang di tebing gunung).

“Iya, naik kereta,” begitu timpalnya.

Yaelah… Itu mah wisata, batinku. Meski hati berontak, ingin teriak, tapi kucoba sabar dan menjelaskan detail, medan yang akan dihadapinya.

Harusnya aku bertanya lebih lanjut ya, pengalaman naik gunung dengan kereta. Tapi rasa jeglek yang tidak bisa kupendam itu, membuatku lapar dan ingin segera ngacir cari makan malam.

Semoga kau pulang membawa cerita baru, mendaki dengan langkah kakimu ya Bang.

 

BTS my journey – series 14

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *