Menikmati Weekend di Gunung Agung, 3.142 mdpl

Spread the love

Bukan waktu liburan panjang, saat kami mengambil waktu untuk naik ke Gunung Agung. Layaknya weekend biasa yang kami gunakan untuk escape ke Bali,  menghabiskan Sabtu Minggu dengan menikmati Gunung Agung.

Kali ini tidak terlalu banyak persiapan dan tidak banyak membawa perlengkapan, karena pendakian ke puncak Gunung Agung ini biasanya dilakukan malam hari dan langsung turun esok paginya, sehingga tidak perlu menyiapkan tenda dan membawa banyak perbekalan. Sabtu pagi, saya terbang dari Surabaya, dengan ransel biasa, tanpa perlu angkut tenda dan sleeping bag, cukup jas hujan dan jaket.

Waktu pendakian yang diperlukan sebenarnya tentative, sesuai kemampuan dan kecepatan jalan masing-masing orang, sehingga jam keberangkatan dihitung mundur dengan jadwal matahari terbit di puncak, karena harapan sebagian besar pendaki adalah menikmati dan mengabadikan moment sunrise di puncak. Ada yang berangkat tengah malam dari basecamp, atau bisa juga berangkat pk.19.00 atau 20.00 jika ingin jalan santai.

Satu teman lagi yang bergabung adalah Ruslan. Dia sudah lama ingin ke Gunung Agung, tapi belum kesampaian, padahal sehari-hari tempat kerjanya ya di Bali. Dan ini nantinya menjadi pendakian ke puncak gunung pertama kalinya buat Ruslan. Semoga ga kapok ya… 90% pendaki ketagihan sich, alias kapok lombok, hehehe…

 

Mobil melaju di siang yang terik, bertiga meluncur menuju area Pura Besakih. Jalur pendakian umum menuju puncak gunung Agung adalah dari Pura Besakih dan Pura Pasar Agung, dimana kalau baca review hasil browsing, dari Pura Pasar Agung itu tidak bisa sampai puncak tertingginya, sehingga jalur paling umum dan banyak dilewati adalah jalur dari Pura Besakih.

Dari terik, sempat kami diguyur hujan deras di jalan dan berharap cuaca cerah nantinya saat pendakian. Musimnya lagi tidak menentu, sebentar panas, sebentar hujan.

Komplek Pura Besakih sudah lewat. Kita masih naik lagi. Menurut Ruslan, kita tidak akan lewat jalur Pura Besakih. Kita diajak ke rumah kenalannya dan berencana start pendakian dari sana.

Kami belok di jalur sempit dan parkir. Kemudian kami diajak masuk ke rumah Pak Made. Kami disambut dengan kopi panas dan gorengan. Di sudut dapur, dibuatkan perapian dari kayu bakar. Udara di sini memang mulai terasa dingin. Apalagi angin dan gerimis yang mewarnai sore itu.

Ternyata sederet di kampung sini adalah rumah guide untuk pendakian Gunung Agung. Nanti kami akan langsung start dari sini. Rumah pak Made bukanlah basecamp, hanya rumah biasa, yang dengan baik hati menyambut dan menampung kami. Tetangganya, pak Dani yang nanti akan menemani perjalanan kami. Bisa dibilang sudah kepala 5 bahkan lebih nech. Anaknya juga sudah jadi guide. Namun karena kami, terutama saya, mengaku jalannya lambat, maka Pak Danilah yang mengantar kami. Anaknya suka antar tamu yang jalannya setengah berlari, hehehe…

Ngobrol-ngobrol, ternyata area ini hanya berada di ketinggian 1.100 mpdl, sehingga kita harus mendaki sekitar 2km ke atas untuk mencapai puncak di 3.142 mdpl. Berbeda dengan Gunung Semeru, yang dimulai dari sekitar 2.200 mdpl menuju puncak di 3.676 mpdl, sehingga hanya mendaki 1,5 km. Dan jalur di area ini dinamakan jalur Embung. Mendengar nama baru, saya ngintip handphone dan sempat browsing sejenak. Ternyata jalurnya istimewa, alias tidak ada bonusnya, semua tracknya nanjak terus. Hanya tarik nafas panjang dan tutup handphone. Semakin dibaca, nanti malah ngos-ngosan duluan sebelum naik.

Sore menjelang gelap, kami disiapkan nasi bungkus oleh pak Made. Menu sayur dan ayam dengan sambal sambal khas Bali, mantap dimakan saat dingin-dingin. Kami bertiga dengan lahap mengisi tenaga dan energi dulu sebelum memulai pendakian. Berdasarkan request dari saya, untuk berjalan santai saja, maka kami disarankan untuk memulai pendakian sekitar pk. 19.00 atau 20.00 an.

Menjelang pk. 19.00 WITA kami bersiap-siap berangkat. Tidak banyak perbekalan, hanya jas hujan, jaket, air minum dan snack secukupnya plus kamera tentunya. Tracking pool alias tongkat untuk pendaki tak lupa menemani langkah kami. Headlamp alias senter di kepala menyala mengiringi perjalanan kami menuju puncak.

Karena siang tadi area gunung Agung sudah puas diguyur hujan, malam ini beruntunglah kami, langit sangat cerah. Saat mulai agak naik, dan lampu rumah penduduk sudah menjauh, mulai terlihatlah bintang-bintang di langit. Semakin naik lagi, lampu kota di seantero Bali tampak jelas menghiasi pemandangan malam kami.

Satu jam perjalanan, badan mulai panas berkeringat, kaki mulai terlatih mendaki terus, tapi cadangan nafas yang selalu butuh diisi. Butuh beberapa kali berhenti untuk menyelaraskan degup jantung dan nafas. Pak Dani serasa ringan saja langkahnya. Jadi usia bukan batasan ya… Tapi kebiasaan dan olahraga yang melatih tubuh kita. Semangat…. hanya itu yang menguatkan kami untuk terus melangkah.

Oh ya, sekedar tips, jangan kebanyakan minum saat perhentian sejenak, karena akan mendinginkan suhu tubuh kembali dan seolah mesin, butuh waktu untuk panas lagi agar bisa melangkah dengan nyaman. Jika tenggorokan kering, basahi seteguk saja. Nanti saat istirahat cukup lama, sekitar dua jam sekali, bolehlah minum sepuasnya untuk mengganti cairan tubuh yang hilang karena berkeringat.

Medan dari awal ajibbb banget. Bukan jalan makadam, bukan akar-akar pohon, tapi kerikil kecil yang cukup licin saat digunakan untuk melangkah. Ada cekungan jalur air di tengahnya, akan tergenang saat hujan. Dan benar, tanjakan terus, sangat jarang sekali bonusnya. Selama pendakian, jalurnya sempit dan menanjak, sehingga tidak tempat yang cukup nyaman untuk berhenti. Ini mengapa tidak disarankan membawa tenda, karena tidak banyak tanah lapang yang bisa digunakan sebagai lahan camping.

Namun karena lelah dan mulai ngantuk, pk. 00.00 Deny memutuskan untuk berhenti dan tidur sejenak. Kami menggelar jas hujan poco sebagai alas dan pak Dani membuatkan api unggun di sebelahnya. Lahan yang kami gunakan berupa jalur utama pendakian dengan medan agak miring dan sempit. Gimana lagi, kalau lelah, memang lebih baik istirahat sejenak. Hanya kita yang bisa membaca tubuh kita, meski bukan memanjakannya ya….

Beberapa menit saya mencoba tidur, belum berhasil, karena angin malam ini terasa cukup dingin, sehingga saya hanya berusaha memejamkan mata. Sementara Deny dan Ruslan sudah terlelap. Tak lama Ruslan juga kedinginan merapat ke arah api unggun.

Lanjut lagi, karena pos 1 pun belum sampai. Dan kami berharap masih bisa mendapatkan matahari terbit di puncak, atau setidaknya di punggungan gunung. Kami tiba di pos 1 pk. 03.00 WITA.  Pos nya pun, bukan pos besar, tidak ada gazebo ato rumah-rumahan seperti di gunung pada umumnya. Posnya berupa tanah datar sedikit lebar. Karena sebelumnya sudah sempat istirahat, kami tidak berhenti lama di pos 1, hanya minum dan siap lanjut lagi. Dari  pos 1 menuju jalur berikutnya adalah tanjakan ke atas yang cukup tinggi, sehingga harus memanjat. Istimewa…

foto diambil keesokan harinya, dan melihat tanjakan tinggi semalam

 

Kami dihajar tanjakan terus, tidak ada habisnya, dan giliran saya yang merasa hampir tidak kuat, mata sudah lelah dan tubuh butuh istirahat, karena sebelumnya tidak bisa tidur. Sehingga saya meminta agar di pos 2 bisa tidur sejenak. Untung jarak dari pos 1 ke pos 2 tidak terlalu jauh, dan begitu sampai, saya langsung merebahkan badan dan terlelap sempurna.

Terbangun saat terdengar suara rombongan bule yang mulai banyak berdatangan, mengejar sunrise arah puncak. Jadi di pos 2 inilah pertemuan antara jalur Embung dan jalur dari Pura Besakih. Katanya sich medan dari Pura Besakih lebih memutar dan jauh, sehingga butuh waktu lebih panjang.

Setelah segar, kami lanjut menuju pos 3 dan menuju puncak. Jalur menuju puncak berupa batu-batu besar, dan masih berpadu dengan kerikil kecil, namun kita masih bisa lewat batu-batu besarnya, sehingga tidak terlalu licin. Merayap di punggungan gunung, berkejaran dengan matahari terbit. Dan akhirnya keduluan. Kami melihat sunrise di punggungan gunung. Menyembul matahari di sisi kanan arah puncak. Langit mulai terang, berbalut kumpulan awan putih. Sesekali langit terbuka, terlihat hamparan daratan dan bukit di seberang. Tak lama tertutup kembali. Maklum musim hujan. Sampai di puncak pun, semuanya serba putih. Mata sempat memandang beberapa kali, saat awan terbuka, namun kecepatan kamera tidak sanggup mengadikannya, keburu pemandangan tertutup awan lagi.

Nikmatnya bukan sekedar sampai ke puncak, tapi perjuangan perjalanan yang selalu berkesan ketika pulang. Seduhan kopi panas menjadi pelengkap yang sempurna…

Setelah istirahat, foto-foto dan menikmati pemandangan, kami kembali turun, karena gerimis tipis serta angin di puncak membuat kami tidak betah bertahan lama. Terlebih kami juga mengejar jam penerbangan balik ke Surabaya. Karena, katanya, naik dan turun gunung ini sama lamanya. Beda dengan gunung lainnya, turunnya bisa sambil setengah berlari. Sementara jalur di Gunung Agung sangat terjal dan licin, sehingga nyali saya untuk berlari sudah tidak ada. Alhasil kami menempuh 5 jam perjalanan turun ditemani hujan deras sejak tengah hari sampai di rumah pak Made. Tidak sempat berbasa-sasi saat tiba di rumah, saya langsung ijin untuk mandi, karena dingin, celana dan sepatu basah.

Setelah segar dan berganti baju kering, barulah saya berceloteh tentang perjalanan kami sambil meneguk kopi hitam panas dan jajanan buatan bu Made. It’s beautiful life…

Catatan waktu perjalanan via Jalur Embung :

  • rumah pak Made – pos 1  = 6 jam : 20.00 – 03.00 (istirahat 1 jam)
  • pos 1 – pos 2 = 1 jam : 03.00 – 04.00
  • pos 2 – pos 3 = 1 jam : 04.00 – 05.00
  • pos 3 – puncak = 2 jam : 05.00 – 07.00
  • turun = 5 jam : 08.00 – 13.30 (istirahat 30 menit)

Note : ini merupakan perjalanan santai, bisa ditempuh dalam waktu separonya untuk naik maupun turunnya

  • Pak Made 082144493125
  • Pak Dani 085237355141

based on our journey on 21 – 22 Jan 2017

 

has published :


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *