Desa Lopus – Dayak Tomun

Perjalanan kali ini merupakan salah satu perjalanan menyepi dan menikmati kakayaan budaya di Kalimantan. Bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat Dayak. Request ke bang Yomie, menuju ke pelosok desa yang masih alami dan jarang dikunjungi.

Kenal Bang Yomie pertama saat trip mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting, untuk melihat orang utan dan menikmati river cruise. Beliau adalah adalah salah satu tour operator di Kumai.

Setibanya di Pangkalan Bun, sudah dijemput. Langsung diajak sarapan nasi lontong sayur. Lontong di Pangkalan Bun ini dibentuk segitiga, disajikan utuh, kemudian disiram dengan kuah sayur santan seperti umumnya lontong sayur. Kemudian kita bisa pilih lauknya, entah telur atau ayam. Teh hangat menjadi pendampingnya. Inilah sarapan selamat datang yang hangat di musim penghujan akhir Desember.

Hari pertama ini berencana untuk tinggal di Desa Lopus, kecamatan Delang, kabupaten Lamandau. Merupakan salah satu desa adat suku Dayak Tomun yang sudah dijadikan sebagai desa wisata. Perjalanan lebih kurang 4 jam mengarah ke utara.

Namun sebelum ke sana, singgah dulu di Nanga Bulik, ibukota Kabupaten Lamandau untuk makan siang dan membeli perbekalan saat main di hutan. Dan sepertinya, disinilah signal data terakhir. Setelahnya, akan susah sinyal, bahkan tidak ada sinyal sama sekali.

Dua jam perjalanan, akhirnya tiba di Nanga Bulik. Mengisi perut sebentar dengan makan siang menu serba ikan. Kebanyakan makanan yang dijual adalah ikan sungai atau ikan air tawar, namun meskipun ikan air tawar, ikannya segar-segar dengan daging dan lemaknya yang tebal, tanpa bau tanah. Maklumlah, mereka hidup di sungai mengalir, bukan tambak, sehingga serasa lebih fresh dan sehat-sehat ikannya.

Setelah makan, mampir sejenak di pasar tradisional untuk belanja sayur, telur, bumbu dan semua kebutuhan untuk masak-memasak di desa dan hutan. Bang Yomie sudah menyiapkan kompor dan peralatan masak untuk camping dengan menu sehat.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Sempat mampir ke Desa Riam Panahan. Mulai tampaklah perkampungan rumah panggung yang masih alami, terbuat dari kayu dan sengaja dibangun tinggi, untuk menghindari hewan buas. Ada dua jenis bangunan, yaitu bangunan rumah dan bangunan yang berfungsi sebagai lumbung. Salah satu yang khas adalah, adanya bundaran melintang di tonggak penyangga bangunan, yang dahulunya berfungsi untuk menghindari hewan naik sampai ke bangunannya.

Lanjut lagi, dan tibalah di Desa Lopus. Langsung meluncur ke salah satu homestay di ujung desa. Kebetulan ibu RT baru saja datang dari hutan dengan membawa keranjang berisi durian, habis panen durian. Disapanya bang Yomie dan kita langsung pesta durian. Pas banget memang, kedatangan saya pas di saat musim durian melimpah. Buahnya tidak terlalu besar, khas buah durian lokal, namun rasanya enak sekali. Manis dan khas pahitnya durian sangat terasa. Habis, buka lagi dan begitu seterusnya. Leukoh banget saya menikmati durian di sana.

Meskipun mulut masih mau, akhirnya berhenti makan setelah perut kekenyangan. Dan bu RT akhirnya mengajak saya keliling desa, dari desa bawah sampai desa atas. Di sekitaran rumah warga desa Lopus, banyak sekali tanaman obat alami yang banyak manfaatnya. Menuju desa bagian atas, tampak rumah adat masyarakat Dayak Tomun yang masih alami dengan bangunan kayunya. Tampak seorang ibu-ibu duduk santai dengan bibir memerah, akibat sirih. Menjadi salah satu obyek terbaik untuk mengabadikannya.

Salah satu sudut jalan desa, terdapat gereja tua. Kepercayaan tradisional masyarakat Dayak Tomun adalah “Kaharingan” seperti agama alam. Namun setelah agama-agama masuk di Indonesia, beberapa akhirnya memeluk agama Kristen, tanpa melupakan tradisi adat. Sehingga mulai ada bangunan-bangunan gereja di antara bangunan-bangunan rumah adat tersebut.

Menyisir ke salah satu sisi yang lain, terdapat sebuah jembatan cukup kokoh dan panjang, yang menghubungkan antar desa. Sebelum adanya jembatan tersebut, masyarakat sana terhubung dengan menyebrangi sungai. Kalaupun jalur darat, harus melewati bukit dengan rute yang cukup panjang.

Setelah berkeliling desa, beristirahat sejenak dengan menyeduh kopi sore di homestay sambil bercerita dengan warga lokal. Ada yang bercerita, bahwa pakaian masyarakat Dayak dulunya adalah dari kulit kayu yang dipukuli secara manual sehingga menjadi lembaran tipis, menyerupai kain. Mereka menyebutnya “kapuak”. Saat ini, mereka memang sudah berpakaian biasa, seperti kaos dan celana. Sementara lembaran kulit kayu tersebut, mulai dialihkan fungsinya dan diolah menjadi souvenir seperti dompet. Tali keranjang yang digunakan masyakarat Dayak, masih menggunakan bahan kulit kayu ini.

Menjelang gelap, saya bantu bang Yomie memasak untuk makan malam. Inilah enaknya tinggal di homestay, bisa bercengkrama dengan warga lokal termasuk bisa memanfaatkan dapur mereka untuk memasak. Dan… tara…. Menu makan malam sudah siap, makanan sehat, hasil belanjaan dari Nanga Bulik tadi siang.

Sesuai makan malam, bu RT sudah membawa ketua adat desa Lopus, untuk mengadakan upacara atau ritual singkat buat para tamu yang datang dan berkunjung ke area sana. Mereka menyebutknya upacara ini dengan “ikat tongang”. Ritual yang diberikan ke kami kali itu tidak meriah dengan tarian dan musik, karena rumah yang kami tinggali sedang kedukaan, maka hanya berupa doa singkat saja.

Peralatan yang mereka siapkan adalah akar, daun, air, beras, besi dan tuak. Mereka menjelaskan  bahwa upacara ini dengan tujuan untuk mendoakan meminta ijin untuk bertamu dan memohon keselamatan selama di area mereka, termasuk saat perjalanan sampai ke puncak Bukit Sebayan. Pertama, ketua adat akan berdoa menghadap pintu luar dan membuang tuak keluar, untuk meminta ijin kami bertamu di area mereka. Kemudian doa dilanjutkan dengan memercikkan air, dilanjutkan dengan mengikatkan tali akar beserta daun sangkuba’ di pergelangan tangan dan dijaga agar tidak putus, karena sebagai lambang urat dan kulit kita. Dilanjutkan dengan menggigit besi tua dan yang terakhir, ritualnya adalah meminum tuak. Buat tamu yang tidak terbiasa atau tidak bisa meminum tuak, cukup sentuh gelasnya saja. Itu sebagai tanda kita menghargai tawaran sajian mereka. Apapun yang diberikan masyarakat Dayak, sebaiknya dimakan atau diminum, jika tidak suka atau tidak bisa, cukup sentuh saja, sebagai tanda menghargai. Pamali katanya kalau tidak disentuh sama sekali, pasti ada celakanya, katanya. Itu mitos dan tradisi mereka, apa salahnya, ketika kita bertamu menghargai apa yang mereka percaya.

Setelah ritual dan sedikit berbincang, saatnya istirahat dan menyiapkan energi untuk perjalanan panjang esok hari menuju hutan.

cerita berlanjut di : http://fifinmaidarina.com/bukit-sebayan-hutan-keramat-dayak-tomun/

based on our journey on 26 Dec 2018

has published :

  1. Harian Surya, 6 Jan 2019
  2. Tribun Jateng, 10 Jan 2019

Spread the love

5 thoughts on “Desa Lopus – Dayak Tomun”

  1. suku dayak tomon apakah ada perbedaan dengan suku dayak lainnya yang wanitanya memanjangkan telinga?

    1. Suku Dayak tersebar di beberapa area di Kalimantan, dan banyak jenisnya. Yang punya tradisi memanjangkan telinga adalah suku Dayak Bahau, Kenyah, Kayan, Aoheng, Penihing, Penan, Kelabit, Sa’Ban, Taman, dan Punan. Jadi memang tidak semua Dayak punya tradisi telingaan Aruu itu.

  2. Btw di awal cerita mungkin lebih bagus dijelaskan siapa itu bang yomie.
    Meskipun sebenarnya di post sebelumnya sudah pernah disebutkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *