Birthday Escape to Kangean Islands

Spread the love

Kalau menyebut nama pulau Kangean, pasti banyak yang bertanya-tanya, dimanakah itu dan ada apa di sana. Persis seperti yang saya alami saat memutuskan untuk berlibur di sana dan pasang status sambil menyebut-nyebut Kangean, banyak yang penasaran mengenai lokasi dan wisata apa yang menarik di sana.

Kepulauan Kangean sebenarnya masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep yang lokasinya berada di timur pulau Madura dan utaranya pulau Bali. Kepulauan Kangean terdiri dari puluhan pulau-pulau kecil dengan konsentrasi penduduk paling banyak di pulau Kangean dan pulau Sapeken. Pulau Kangean menawarkan pantai berpasir putih yang cantik, sementara Sapeken cenderung nampak seperti kampung nelayan, yang berada di timur Kangean, namun pulau-pulau di sekitar Sapeken menawarkan keindahan bawah laut yang luar biasa. Dan saya ingin membuktikan dan merasakan sensasi keindahannya secara langsung.

Perjalanan menuju Kangean dan Sapeken dimulai dari Surabaya menuju kota Sumenep lebih kurang 4-5 jam dan tidak jauh setelah masuk kota, terdapat pertigaan ke kanan menuju Kalianget. Atau kalau naik kendaraan umum, ada bis dari Bungurasih sampai ke terminal Kalianget. Pelabuhan Kalianget letaknya tidak jauh dari terminal. Namun di sana terdapat dua pelabuhan, yang terdekat dari terminal adalah pelabuhan untuk kapal ferry, yang memakan waktu perjalanan lebih lama, dan setelahnya barulah pelabuhan untuk kapal cepat “Express Bahari”. Untuk kapal cepat, memang sedikit lebih mahal, dengan pembagian kelas-kelas, namun hanya membutuhkan waktu penyebrangan 4 jam dari pk. 09.00 sampai pk. 13.00. Karena kapal cepat, jadwalnya sehari cuma sekali dan berangkat pada pagi hari, maka sebaiknya berangkat tengah malam dari Surabaya, kemudian sarapan dan aktivitas MCK di terminal Kalianget.

Awalnya gambling juga liburan saya kali ini, karena saya cari info dan pesan tiket 2 hari sebelumnya. Untung mbak Retno, ticketing yang di Kalianget sangat membantu dan malah mengenalkan temannya yang di Kangean untuk menemani keliling di sana. Saya cuma komunikasi lewat udara, menyampaikan tentang beberapa pulau yang ingin saya kunjungi dengan spot-spot bawah laut yang indah. Kemudian minta tolong dicarikan kapal untuk island hopping dan homestay selama di sana. Kalau mau liburan serasa benar-benar liburan, make it simple, tidak perlu khawatir ini itu, seperti tempat tinggalnya seperti apa, MCK dimana. Bersosialisasi dengan penduduk asli malah menyenangkan, karena bakal lebih banyak hal baru yang didapat, selain hanya ‘wisata’.

Oh ya, ada tips, kalau bawa kendaraan pribadi, lebih baik titip ke petugas ticketing di pelabuhan Kalianget, karena tidak ada petugas yang jaga di pelabuhan. For free pula, mereka tidak mau menerima sepeser pun atas jasa-jasa seperti itu, karena memang mereka niatnya tulus membantu.

Dan…I’m sailing to Kangean island…. Selama perjalanan lebih banyak saya manfaatkan untuk tidur, mengisi energi sebelum penjelajahan panjang dimulai.

Welcome to Kangean island… Keluar dari kapal, sudah disambut sama mbak Kokom dan Iin (adiknya). Tampangku ketahuan banget kalau pendatang kayaknya, mereka begitu cepat mengenalinya. Karena pulau-pulau yang ingin dikunjungi lebih banyak di selatan pulau Sapeken, kemarin via telepon mereka sudah menyarankan setelah tiba di Kangean langsung berlayar ke Sapeken. Eits, tapi karena waktunya makan siang, langsung deh menyantap menu ikan di warung pelabuhan dulu, karena perjalanan masih panjang. Pergi ke pulau tidak makan ikan, kurang mantap rasanya.

Siang itu, langsung dengan angkutan umum, dibawalah menuju ke pelabuhan Kayu Aru, yang mana menempuh perjalanan 2 jam dengan jalanan yang rusak sana-sini. Jadi tidak mungkin bisa tidur dengan tenang. Memang saatnya ajojing dan ngobrol dengan sang sopir, mas Hasan, sehingga bisa explore lebih banyak tentang budaya orang Kangean. Ternyata di Kangean dan Sapeken, warganya banyak yang berangkat jadi TKI, karena merasa lebih menguntungkan ketimbang mengandalkan hasil alam. Beberapa kali terlintas deretan rumah mewah dan mobil mewah edisi terbaru, hasil macul di negara tetangga. Di sana masih sedikit polusi, karena tidak pabrik. Setelah melewati pusat kota Kangean, kemudian melintasi deretan sawah dan perkebunan, kemudian hutan dan sampailah di ujung, yaitu di pelabuhan Kayu Aru.

Di pelabuhan sudah ditunggu dengan kapal “Damai”, kapal motor yang kami carter selama beberapa hari ini. Iin yang menemaniku, siap dengan ransel dan sepatu fin-nya. Anaknya terlihat tomboy dan easy going, jadi bakal seru jalan sama dia.

Tidak lama berlayar, terpampang lautan luas yang biru dan jernih, sayang matahari mulai tenggelam perlahan, sehingga tidak bisa cuci mata lebih lama. Dan setelah 2 jam, tibalah ke Sapeken, disambut Pak Acon, bapaknya mas Hasan. Dan selama 2 malam nanti, kami tinggal di rumah Pak Acon ini.

Setelah mandi, sudah siap menu ikan bakar dan sup ikan yang menggoda. Wah, jadi sungkan rasanya, sungguh-sungguh mengharapkan, hehe.. Setelah kenyang, saatnya menurunkan isi perut dengan mengajak cucunya pak Hasan jalan-jalan ke pelabuhan.

Penduduk Sapeken ini bisa dibilang semuanya adalah muslim, sehingga buat pendatang mungkin bisa menyesuaikan, termasuk masalah berpakaian agar lebih sopan. Kalau pas berenang di lautan sich, ga masalah, kan yang liat cuma ikan-ikan dan terumbu karang 😀

Pagi kedua liburanku, sudah disuguhi sarapan ikan lagi, dengan sambal special, yaitu pakai kedondong kecil-kecil, pengganti pencit. Rasa pedas dan kecut menyatu di lidah, bikin tidak bisa berhenti. Dan menu enak ini, juga sudah disiapkan si ibu, untuk dibawa bekal selama island hopping hari ini. Mantap…

Kapal “Damai” semenjak pagi sudah siap mengantarkan keliling. Pertama menuju ke pulau Saur. Tidak menuju pantainya, meskipun dari jauh kelihatan putih bersih. Tapi kapal berhenti beberapa meter mendekati tepi dan snorkeling di sekitar situ. Airnya begitu bening dengan warna-warni terumbu karang dan bintang laut yang begitu mempesona dan menarik ketimbang hanya duduk-duduk di pantai. Belum puas rasanya berenang, sudah diajak pindah lagi ke pulau Saebus dan mata dimanjakan lagi soft coral dan ikan-ikan kecil, termasuk nemo. Terakhir menuju pulau Bungin yang tepiannya merupakan hutan bakau, dengan air yang tetap jernih, sehingga terlihat tanaman-tanaman kecil di sekitaran hutan bakau tersebut. Disini pulalah kami beristirahat untuk makan siang ikan laut bekal si ibu. So yummy…

Hari ini Jum’at, sehingga awak kapal hanya mau mengendarai setengah hari, karena mereka akan Jumat’an. Jadi setelah makan, langsung berlayar pulang ke rumah si ibu dengan membawa tempat makan kosong bersih tak bersisa. Mandi dan bersantai sambil menunggu sore, menyaksikan matahari terbenam di sekitaran pelabuhan.

Sore itu ada pertandingan bola di depan rumah pak Acon, jadi sambil nonton, ketawa-ketiwi mendengarkan komentator dengan gaya kelas nasional. Anak pulau memang cenderung gemar olahraga, terutama sepakbola. Fisik mereka cenderung lebih kuat.

Keliling satu pulau Sapeken, hanya beberapa menit saja dengan berjalan kaki, karena panjangnya hanya sekitar 1 km, sementara lebarnya sekitar 800 m. Pendidikan di Sapeken sudah ada sampai tingkat SMA. Rumah asli penduduk Sapeken adalah rumah panggung, sehingga beberapa bangunan lama, rumahnya masih tinggi-tinggi.

Malamnya, setelah makan malam dengan menu ikan lagi, kami disuguhi minuman khas kepulauan Kangean, es kelapa susu, yaitu kelapa muda dicampur susu dan es, menjadi dessert special di hari ulang tahun saya.

Pagi ketiga liburan saya, sudah dibangunkan cukup pagi, untuk diajak si ibu pergi ke pasar ikan. Bukan seperti pasar tepatnya, tapi bangunan di tepi laut yang mana nelayannya sepulang menangkap ikan, langsung menjual hasil tangkapannya. Segar-segar dan besar. Dan saat itu, musimnya ikan-ikan sedang bertelur, sehingga karena belanja ikan cukup banyak, si ibu diberi bonus telur ikan.

Langsung dech digoreng ama si ibu, dengan colek sambal kedondong lagi.

Sisa sarapan langsung dibungkuskan si ibu untuk bekal makan siang. Hari ini saatnya berlayar ke pulau Selarangan, sekaligus arah pulang kembali ke pulau Kangean. Kepergian dari Sapeken meninggalkan rasa syukur buat alam dan makanan yang luar biasa, terlebih buat keluarga pak Acon yang sudah menampung kami selama 2 malam.

Belum selesai rasa syukur dan kagum atas penjelajahan kemarin, hari ini dibuat kagum lagi ketika sampai di lautan mendekati pulau Selarangan. Kapal “Damai” berhenti untuk pamer bawah lautnya. Dan kali ini saya berasa seperti berenang di aquarium penuh ikan dan terumbu karang cantik dengan air yang begitu bening. So amazing…

Setelah puas berenang bareng ikan dan foto sana-sini, kapal “Damai” dibawa merapat ke pulau Selarangan. Dan wow lagi… Dari tepi pantai, degradasai warna yang tampak begitu indah, mulai dari pasir putih, lautan biru muda dan semakin dalam menjadi biru lebih tua, dengan langit yang sangat cerah memantulkan warna biru yang berpadu sangat indah. Sungguh saya tidak pernah mengira ada keindahan pantai seperti ini di Jawa Timur. Bahkan saya seperti lupa kalau ini masih berada di kawasan Jawa Timur.

Cuci mata sambil menyantap makan siang. Tak lama, warga Selarangan bermunculan menyapa kami. Penduduknya tidak terlalu banyak, dan pulau ini pernah terkena tsunami. Tiap tahun pulaunya tergerus mengecil. Sayang jika nantinya malah hilang.

Siang hingga menjelang magrib menjadi perjalanan kembali ke pulau Kangean. Malam ini numpang tidur di rumah Iin. Celoteh Iin dan saya bergantian, menceritakan keindahan perjalanan kami ke mbak Kokom. Mbak Kokom ini adalah ticketing di pulau Kangean. Jadi rekan seperjuangan dengan mbak Retno di Kalianget. Bersyukur bertemu dengan mereka, menjadikan liburan ini sempurna. Apalagi ibunya mbak Iin memberikan resep dan bumbu masakan khas kepulauan Kangean, yang siap diolah sesampainya di Surabaya nanti. Sambal kedondong dan sup ikan…Horay…

Esoknya saya kembali ke Kalianget dengan Express Bahari, dan menyisakan janji untuk kembali, karena pulau Kangean malah belum dikelilingi. PR saya bertambah, tapi saya juga senang, karena semakin penasaran dengan seluruh pelosok Jawa Timur yang indah dan wajib dijelajahi. Sepertinya tidak akan ada habisnya, alam dan budaya Jawa Timur ini untuk ditelusuri.

 

Note :

Surabaya (Bungurasih) – Kalianget : 4 – 5 jam (melayani 24 jam) – > tersedia bus ekonomi dan AC

 

Express Bahari

  • Kalianget – Kangean : Senin, Kamis, Sabtu
  • Kangean – Kalianget : Selasa, Jumat, Minggu
  • Harga kelas Bisnis : Rp. 150.000 sekali jalan, Rp. 280.000 PP (update pertengahan 2013)

 

  • Ticketing Kalianget : mbak Retno 081913646952
  • Ticketing Kangean : mbak Kokom 081359906100
  • Guide Kangean : mbak Iin 081326946479

Angkutan pelabuhan Kangean – pelabuhan Kayu Aru : mas Hasan 081357116473

Kapal “Damai” : 085330138022

Homestay : pak Acon 082143451189

based on our journey on 9 – 12 May 2013

has published :

 

 


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *